Tentang Salah Pelafalan
(Oleh: Ellis Artyana)
Sebagai guru bahasa Indonesia bagi penutur asing, saya banyak mendapatkan pelajaran dari murid-murid saya tentang bahasa. Salah satunya tentang perbedaan bunyi bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa pertama murid saya.
Misalnya, murid-murid dari negara Tiongkok cenderung sulit membedakan bunyi [t] dan [d] dalam kata bahasa Indonesia karena dalam bahasa Mandarin konsonan /t/ dan /d/ bunyinya nyaris terdengar sama, yaitu seperti bunyi [t]. Sehingga saat mengucapkan kata /datang/, yang sering terdengar malah seperti [tatang]. Selain itu, dalam bahasa Mandarin, bunyi konsonan /p/ dan b/ nyaris terdengar sama, yaitu seperti bunyi [p]. Karenanya, mengucapkan kata /buku/ sering terdengar menjadi [puku] atau [phuku].
Murid dari Jepang sulit mengucapkan bunyi [l] karena dalam bahasa Jepang tidak mengenal bunyi [l]. Setiap ada kata bahasa Indonesia yang mengandung bunyi [l] selalu dilafalkan dengan bunyi [r]. Nama saya, Ellis, dalam bahasa Jepang akan diucapkan menjadi [erisu]. Juga masih ada beberapa perbedaan bunyi antara bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Hal ini mempengaruhi mereka saat mengucapkan bunyi dalam bahasa Indonesia.
Ada juga murid dari Vietnam yang tidak bisa menyebut bunyi konsonan [s] di akhir kata. Misalnya, kata /bagus/ selalu menjadi [bagut]. Awalnya saya pikir karena alat artikulasi dia memang tidak bisa menyebut [s]. Akan tetapi, hal yang sama terjadi pada temannya yang juga berasal dari Vietnam. Dia juga tak bisa menyebut [s] di akhir kata. Selalu menjadi bunyi [t].
Biasanya, jika menemukan kesalahan berulang seperti itu dan terjadi pada lebih dari satu murid, saya akan bertanya kepada mereka. Misalnya, terhadap murid dari Vietnam itu saya bertanya "Apakah dalam bahasa pertama Anda ada kata yang diakhiri dengan konsonan /s/? Dia menjawab "Tidak ada, Bu." Maka, seketika saya paham mengapa dia selalu mengucap /bagus/ menjadi [bagut], /kamus/ menjadi [kamut], dsb. Penyebabnya karena dialek bahasa pertamanya begitu kuat sehingga mempengaruhi bahasa kedua yang sedang ia pelajari. Karenanya, terkadang, meskipun sudah berlatih ratusan kali, si murid masih sering melakukan kesalahan.
Penyebab yang sama juga saya temukan pada murid-murid dari negara lain. Dialek bahasa pertama mereka yang sangat kuat mempengaruhi bahasa kedua mereka, bahkan saat mereka sudah lancar berbahasa Indonesia sekalipun. Bahkan, tak jarang si murid pun sadar bahwa dirinya salah, tetapi tetap saja sulit bagi dia memproduksi bunyi yang benar-benar tepat.
Salah? Jika kita mengejar "ideal" memang hal itu tidak ideal. Namun, sebagai penutur asing (atau bukan penutur jati) ketidaksempuranaan tersebut sangat bisa dimaklumi. Tak banyak penutur asing sebuah bahasa yang bisa bertutur sangat mirip dengan penutur jatinya. Secara pelafalan, memang tak sempurna. Namun, dalam konteks berkomunikasi, terkadang kita hanya perlu saling paham apa yang dimaksud mitra tutur kita.
Seperti saat suatu hari murid dari Vietnam itu berkata, "Aduh! Ibu, saya lupa membawa kamut!"
Saya bertanya "Maksudnya 'kamus'?"
Dia menjawab, "Iya, Bu. Kamut."
Percakapan seperti itu sering terjadi. Akan tetapi, meskipun salah ucap, toh saya mengerti maksud dia.
Tidak banyak yang memahami dan menyadari bahwa bahasa pertama seseorang bisa mempengaruhi bahasa keduanya. Karenanya, sering saya mendengar orang-orang awam menertawakan orang asing yang salah melafalkan kosakata bahasa Indonesia. Padahal, setiap bahasa punya kekhasannya masing-masing. Kekhasan ini bisa dari berbagai aspek. Bisa dari tataran struktur kalimat, pembentukan kata, hingga bunyi. Semakin mahir seseorang menguasai sebuah bahasa, maka semakin kuat juga kekhasan bahasa tersebut 'menempel' pada penuturnya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuannya saat menggunakan bahasa kedua atau bahasa asing.
Menariknya , hal ini juga terjadi pada kita, para penutur bahasa Indonesia, yang kebanyakan juga menguasai bahasa daerah. Bahkan, generasi yang lahir pada tahun 60-an banyak yang bahasa pertamanya bukanlah bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah. Tidak jarang kita menjumpai orang Indonesia tulen yang tetap tak bisa mengucapkan lafal bahasa Indonesia dengan tepat.
Sebagai contoh, ayah saya. Bahasa pertama beliau adalah bahasa Sunda. Meskipun demikian, beliau sudah mulai menggunakan bahasa Indonesia sejak SD. Sekarang beliau berumur 57 tahun. Artinya, sudah 50 tahun beliau menggunakan bahasa Indonesia di samping juga bahasa Sunda. Akan tetapi, hingga kini, beliau masih saja tak bisa melafalkan diftong [ai] dalam bahasa Indonesia secara tepat. Misalnya, saat mengucapkan kata /pantai/ yang terdengar malah [pantei]. Kata /melerai/ diucapkan menjadi [melerei].
Juga, pernah dengar anekdot ini, kan?; "Siapa bilang orang Sunda tidak bilang bilang 'F'? PITNAH!" Memang benar bahwa orang Sunda seringkali 'tak bisa' menyebut lafal [f]. Atau kadang sering tertukar. Lafal [f] menjadi [p] dan [p] menjadi [f]. Coba saja perhatikan saat orang Sunda sedang berbicara. Saya juga yakin bahwa ada banyak penutur bahasa daerah lainnya yang tak sempurna saat melafalkan bunyi bahasa Indonesia.
Bahasa yang satu dan lainnya memang saling mempengaruhi. Bahasa yang lebih mahir dikuasai seseorang---biasanya bahasa pertamanya---seringkali menjadi sangat dominan. Makanya, saya tak heran jika Presiden Jokowi bisa salah saat melafalkan bunyi [alfatihah] yang secara artikulatif merupakan bunyi bahasa Arab. Hal itu mengingatkan saya pada almarhum pakde saya yang juga mengucapkan "Alfateka". Beliau juga orang Jawa dan sudah pandai mengaji sejak kecil, tapi tetap saja tak bisa mengucap lafal bahasa Arab secara sempurna.
Fenomena bahasa seperti ini terjadi di sekeliling kita, di keseharian kita. Namun, keterbatasan pengetahuan kita tentang perbedaan bahasa satu dengan bahasa lainnya memang membuat kita tak tahu mengapa si A bicara seperti itu, mengapa si B tidak bisa mengucapkan ini. Sialnya, kita seringkali tak mau repot untuk mencari tahu terlebih dahulu sebelum gegabah menghakimi kemampuan berbahasa seseorang dan menjadikannya bahan ejekan.